LIFT-Sekolah Penerbangan Pencetak Pilot Berkualitas di Lombok

0
282
Kepala Sekolah LIFT, Captain Abbas Yahya Ali, berswafoto di pesawat latih jenis Liberty XL2. (ist)
Kepala Sekolah LIFT, Captain Abbas Yahya Ali, berswafoto di pesawat latih jenis Liberty XL2. (ist)

Mataram (NTBOne) – Lombok Institute of Flight Technology (LIFT), atau Sekolah Teknologi Penerbangan Lombok, Nusa Tenggara Barat, terus berinovasi dan mengembangkan diri dalam rangka mencetak sumber daya manusia pilot terampil dan berkualitas sehingga bisa memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan di dalam dan luar negeri.

“Alhamdulillah, selama ini lulusan LIFT tidak ada yang belum kerja, semua cepat diterima bekerja di maskapai manapun,” kata Kepala Sekolah Lombok Institute of Flight Technology (LIFT), Captain Abbas Yahya Ali, ketika ditemui wartawan di Mataram, Senin (17/2/2020).

Sebelumnya, sekolah tersebut dikelola oleh pengusaha asal Hongkong. Sahamnya kemudian dibeli oleh pengusaha dari NTB pada 2019, yakni Hj Irene Manuwu, selaku Direktur Utama LIFT, dan H Lalu Didiek Yuliadi, sebagai Direktur Operasional LIFT.

Sebelum diambil alih pengusaha lokal, LIFT sudah banyak mencetak lulusan dan diterima bekerja di berbagai maskapai penerbanga, seperti Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, Lion, dan Batik Air. Bahkan, sudah banyak menyandang status captain pilot.

Abbas mengatakan sekolah yang dikelolanya beroperasi sejak 2011 dan telah memperoleh izin dari Kementerian Perhubungan dengan Pilot School Certificate No.141D-012. Izin tersebut diperbarui setiap dua tahun sekali. Sebelum diperbarui terlebih dahulu dilakukan audit.

Sekolah penerbangan tersebut memiliki berbagai fasilitas untuk melatih para siswa calon pilot. Di antaranya, asrama dan ruang kelas yang refresentatif.

LIFT juga memiliki delapan instruktur profesional yang fasih berbahasa inggris. Sebab, proses belajar-mengajar sehari-hari menggunakan bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan maskapai penerbangan saat ini.

Fasilitas pelatihan yang paling utama adalah pesawat latih jenis Liberty XL2. Pesawat buatan Amerika Serikat tersebut memiliki teknologi canggih dengan fitur computerized lengkap, dan paling sensitif serta tingkat keamanan relatif tinggi.

Jumlah pesawat Liberty yang digunakan untuk mencetak calon pilot sebanyak empat unit, namun hanya tiga yang dioperasikan terbang.

“LIFT satu-satunya sekolah penerbangan di Indonesia yang menggunakan pesawat Liberty untuk melatih siswa calon pilot. Kalau sekolah penerbangan lainnya menggunakan pesawat latih jenis Cessna,” ujar Abbas.

Ia menambahkan fasilitas pelatihan lainnya adalah izin latihan terbang di Bandara Internasional Lombok. LIFT juga memiliki “satelite base” di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa.

Ada juga fasilitas “Training croos country” dari kota ke kota, yakni dari Bandara Internasional Lombok menuju Bandara Sultan Kaharuddin Sumbawa Besar, dan ke Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima.

LIFT juga memiliki fasilitas berupa simulator Redbird FMX yang menjadi syarat wajib dari Kementerian Perhubungan, dan Simulator Redbird Cross Wind untuk melatih para calon penerbang menghadapi kondisi cuaca yang kurang bagus, terutama angin kencang yang datang secara tiba-tiba.

Kepala Sekolah LIFT, Captain Abbas Yahya Ali, berswafoto di pesawat latih jenis Liberty XL2. (ist)
Kepala Sekolah LIFT, Captain Abbas Yahya Ali, berswafoto di pesawat latih jenis Liberty XL2. (Foto NTBOne)

Siswa calon pilot juga diberikan pelatihan terbang pada malam hari. Mereka diwajibkan punya jam terbang malam hari minimal 10 jam agar mendapatkan lisensi sebagai pilot,” .

“Kami boleh terbang di Bandara Internasional Lombok, termasuk terbang malam. Kami dikasi exercise lengkap dan tidak dibatasi. Kalau di Jawa susah, mau terbang di atas bandara seperti di Semarang, Adi Sumarmo, Halim Perdana Kusumah, sudah tutup,” katanya.

Saat ini, sekolah penerbang yang berada di Jalan Dukuh Saleh Nomor 16 Pejeruk Sejahtera, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram tersebut sedang mendidik sebanyak 14 siswa calon pilot. Mereka ada yang berasal dari Jakarta, Pulau Jawa, Sulawesi, Medan, dan Papua.

Mereka akan mengikuti program pelatihan terbang selama satu tahun penuh, mulai Maret 2020 dan akan berakhir pada Maret 2021.

Selain siswa dari dalam negeri, LIFT juga akan membuka kelas internasional. Sebab, sekolah tersebut sudah dianggap berstandar internasional.

“Kami juga sudah ada siswa calon pilot dari Arab Saudi yang baru mendaftar. Sekarang sedang dibantu mengurus visa siswa,” ucap Abbas.

Syarat untuk bisa masuk menjadi siswa calon pilot adalah usia minimal 17 tahun, lulusan sekolah lanjutan tingkat atas, lulus tes kesehatan dan psikotest, serta mampu berbahasa Inggris dibuktikan dengan sertifikat skor kemampuan berbahasa Inggris minimal 400 (TOEIC).

LIFT tidak membatasi siswa calon pilot dari kalangan pria maupun wanita. Begitu juga dengan tinggi badan. Yang terpenting adalah memenuhi syarat dan memiliki kemauan untuk menjadi pilot berkualitas.

Syarat lainnya adalah membayar biaya pendidikan selama satu tahun sebesar Rp800 juta. Biaya tersebut sudah termasuk biaya tempat tinggal (asrama), dan makan tiga kali sehari.

“Biaya pendidikan pilot di LIFT relatif lebih murah dibandingkan sekolah penerbangan lainnya di Indonesia, tapi dari segi fasilitas, LIFT sudah terbilang sangat lengkap. Kalau sekolah lain bisa di atas Rp1 miliar, tapi fasilitas belum tentu lengkap. Ada juga yang lebih murah dari kami, tapi kembali lagi ke fasilitasnya,” ucap Abbas.

Direktur Utama LIFT Hj Irene Manuwu (kiri), bersama Keoala Sekolah LIFT , Captain Abbas Yahya Ali. (Foto NTBOne)
Direktur Utama LIFT Hj Irene Manuwu (kiri), bersama Keoala Sekolah LIFT Captain Abbas Yahya Ali. (Foto NTBOne)

Sementara itu, Direktur Utama LIFT, Hj Irene Manuwu berharap keberadaan sekolah penerbangan yang dikembangkannya bisa dimanfaatkan oleh putra-putri NTB yang ingin menjadi pilot yang handal dan berkualitas.

“Saya ingin putra dan putri di NTB bisa tumbuh dan berkembang menjadi pilot yang gagah perkasa, bukan hanya putra-putri luar daerah yang kita promosikan menjadi penerbang,” katanya.

Irene juga ingin mengembangkan jasa layanan berwisata ke pulau-pulau kecil di Pulau Lombok, menggunakan pesawat jenis Liberty XL2, namun masih menunggu izin dari Kementerian Perhubungan. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here