Demi menerangi Lunyuk, Ragil rela hidup di pelosok terpencil

0
370

Hidup di daerah terpencil dengan segala keterbatasan infrastruktur mungkin bukan keinginan kebanyakan orang. Tapi tidak bagi Ragil. Salah seorang pegawai PLN itu rela berada di wilayah yang relatif jauh dari hingar bingar perkotaan.

“Bahagia rasanya bisa menerangi masyarakat”, itulah ungkapan yang disampaikan Ragil Teguh Prakoso, salah seorang pegawai PLN yang saat ini bertugas di Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kecamatan Lunyuk adalah salah satu dari 24 kecamatan di Kabupaten Sumbawa, yang terletak di ujung selatan Pulau Sumbawa dan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Jarak Kecamatan Lunyuk dari Kota Sumbawa adalah sekitar 90 kilometer. Untuk mencapai Lunyuk, diperlukan waktu sekitar 3 hingga 4 jam dari pusat Kota Sumbawa dengan medan yang cukup sulit, seperti pegunungan dan jurang. Tak jarang, akses jalan yang dilaluinya tidak bisa dilewati karena adanya longsoran dari-tebing-tebing bukit di sisi jalan.

Namun bertugas di tempat terpencil, jauh dari hingar bingar perkotaan tak lantas membuat semangat pria yang akrab disapa Ragil meredup. Hal ini justru membuat pria 24 tahun ini justru semakin termotivasi dalam bekerja.

“Bekerja di sini selalu saya niatkan ibadah. Jalani saja dengan ikhlas, apalagi kehadiran kita bisa bermanfaat bagi masyarakat Lunyuk,” tutur Ragil.

Bekerja di bawah PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pembangkit Tambora, sehari-hari Ragil bekerja mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Diesel untuk menjaga pasokan listrik tetap andal di Lunyuk.

Dirinya bertanggung jawab menjaga keandalan delapan mesin pembangkit dengan total daya sebesar 1.930 kiloWatt. Memang tidak besar, namun pastinya sangat diperlukan oleh lebih dari 20 ribu penduduk Lunyuk.

“Setiap harinya saya dikelilingi oleh lingkungan yang saling _support_. Rasa kebersamaannya sangat tinggi. Pastinya, hal itu menjadi salah satu menjadi semangat saya,” cerita pria yang hobi bermain futsal itu.

Lima tahun bekerja mengelola pembangkit, suara mesin telah akrab di telinga pria yang bergabung bersama PLN sejak tahun 2014.

Menurutnya, mengelola pembangkit di daerah terpencil tidak semudah mengelola pembangkit di kota-kota besar. Jika terjadi gangguan pada mesin pembangkit dan membutuhkan penggantian suku cadang, maka dirinya harus menempuh jarak yang jauh untuk memperoleh suku cadang yang dibutuhkan.

Namun sisi menariknya, setiap pergi meninggalkan Lunyuk untuk bekerja, dirinya selalu mengajak sang istri.

“Ya ini menjadi perjuangannya, di saat yang lain bisa setiap hari menikmati indahnya kota, kami harus memastikan pasokan listrik di sini tetap aman. Dan kalau harus pergi ke Kota Sumbawa, biasanya saya ajak istri. Tidak tega meninggalkan istri sendiri di sini, untuk keamanan saja. Kalau ada apa-apa tentu sulit di sini, karena sepi,” ucap Ragil.

Keikhlasan, itu yang selalu ia pegang dalam bekerja. Menurutnya dimanapun ditempatkan itu sudah menjadi konsekuensi dirinya menjadi insan PLN. Satu hal yang selalu dibayangkan, bagaimana sulitnya masyarakat Lunyuk jika tidak ada listrik dari PLN.

“Bayangkan kalau mesin ini berhenti operasi, tentu masyarakat akan kesulitan. Anak-anak sulit belajar, usaha-usaha masyarakat berhenti, apalagi ramadhan besok, kalau tidak ada listrik pasti akan sulit,” ujar Ragil.

Di saat banyak pegawai di perkotaan meminta peningkatan kesejahteraan, Ragil hanya minta didoakan selalu diberikan kesehatan agar bisa menjaga pasokan listrik dan membuat Lunyuk tetap terang.

Selamat Hari Buruh, Sang Penerang! Kehadiranmu menjadi pelita di pelosok negeri terpencil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here