Kemenparekraf dan SMF Bersinergi Biayai Homestay di Mandalika Lombok

0
474
Direktur SMF Trisnadi Yulrisman (kanan), dan Ketua BumDes Putri Nyale, Desa Kuta, Emur (kiri), menandatangani perjanjian penyaluran program Kemitraan Pembiayaan Homestay, di Desa Kuta, KEK Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis (24/10/2019). Foto Humas SMF
Direktur SMF Trisnadi Yulrisman (kanan), dan Ketua BumDes Putri Nyale, Desa Kuta, Emur (kiri), menandatangani perjanjian penyaluran program Kemitraan Pembiayaan Homestay, di Desa Kuta, KEK Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis (24/10/2019). Foto Humas SMF

Lombok Tengah (NTBOne) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan PT Sarana Multigriya Finansial/SMF (Persero) kembali merealisasikan penyaluran pembiayaan homestay berupa program Kemitraan di kawasan destinasi pariwisata. Kali ini, Desa Kuta, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) dipilih sebagai salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP).

Hal tersebut diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian penyaluran program Kemitraan Pembiayaan Homestay pada Kamis (24/10/2019) oleh Direktur SMF, Trisnadi Yulrisman, dan Ketua BumDes Putri Nyale, Desa Kuta, Emur.

Penandatanganan disaksikan oleh Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti, Kepala Bidang Investasi Destinasi Pariwisata Prioritas, Nurwan Hadiyono, Kasubdit Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan, Muhamad Nahdi, Kepala Desa Kuta, Mardan, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kuta, Lalu Maulidin, serta para tokoh mayarakat.

Direktur SMF Trisnadi Yulrisman (tengah), bersama Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti, Kepala Bidang Investasi Destinasi Pariwisata Prioritas, Nurwan Hadiyono, Kasubdit Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan, Muhamad Nahdi, Ketua BumDes Putri Nyale, Desa Kuta, Emur, Kepala Desa Kuta, Mardan, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kuta, Lalu Maulidin, serta para tokoh mayarakat, semangat mewujudkan rumah penginapan menyambut MotoGP KEK Mandalika 2021. (Foto Humas SMF)
Direktur SMF Trisnadi Yulrisman (tengah), bersama Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti, Kepala Bidang Investasi Destinasi Pariwisata Prioritas, Nurwan Hadiyono, Kasubdit Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan, Muhamad Nahdi, Ketua BumDes Putri Nyale, Desa Kuta, Emur, Kepala Desa Kuta, Mardan, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kuta, Lalu Maulidin, serta para tokoh mayarakat, semangat mewujudkan rumah penginapan menyambut MotoGP KEK Mandalika 2021. (Foto Humas SMF)

Penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut dari MoU tentang Pelaksanaan Dukungan Pembiayaan Pondok Wisata atau homestay di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas yang sebelumnya sudah ditandatangani antara Kemenpar dan PT SMF pada (9/7/2019) di Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta.

Penyaluran program kemitraan kepada masyarakat di Desa Kuta, Mandalika dilakukan melalui lembaga penyalur dan pemberdayaan lembaga penyalur pada area DPP. Di dalam prosesnya, Kemenparekraf dan SMF melakukan pendampingan kepada lembaga penyalur dalam rangka “capacity building” dan peningkatan peran serta masyarakat setempat.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti menjelaskan, alasan pemilihan desa penyangga KEK Mandalika, salah satunya Desa Kuta sebagai lokasi yang akan difasilitasi pembiayaannya sesuai hasil mapping yang telah dilakukan di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, terutama menyangkut potensi pariwisata di dalamnya.

“Apalagi Mandalika akan menjadi tuan rumah Moto GP di 2021, pasti kebutuhan penginapan juga akan meningkat. Lebih baik masyarakat sekitar yang ambil kesempatan agar terkena dampak positifnya,”.

Menurut dia, homestay adalah usaha yang mudah dan murah karena memanfaatkan hunian pribadi. Pemanfaatan dana Program Kemitraan ini diharapkan dapat mendukung perbaikan/pembangunan Homestay yang kriterianya melekat dengan ciri khas rumah Lombok.

Anneke menambahkan masyarakat harus bangga dengan budayanya, aplikasinya bisa dalam bentuk hunian dan segala hal yang melengkapinya. Sehingga setiap Homestay dan ekosistemnya nanti memiliki ciri khas masing-masing.

“Di Lombok misalnya, bentuk rumahnya berbeda dengan rumah di destinasi lain, berikut aktivitas dan kulinernya. Hal ini yang menjadi nilai jual bagi wisatawan dan akan menjadi pemenuhan salah satu poin dari Sapta Pesona, yaitu kenangan,” ujar Anneka sambil menegaskan bahwa kenangan akan sesuatu tempat dan kegiatan, selalu akan membawa mereka kembali ke tempat tersebut.

Direktur SMF, Trisnadi Yulrisman (kiri), bersama Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti (kanan), berdiskusi dengan salah satu pemilik homestay di Desa Kuta, KEK Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. (Foto NTBOne)
Direktur SMF, Trisnadi Yulrisman (kiri), bersama Ketua Tim Percepatan Pengembangan Homestay Desa Wisata Kemenparekraf, Anneke Prasyanti (kanan dua), berdiskusi dengan salah satu pemilik homestay di Desa Kuta, KEK Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. (Foto NTBOne)

Sementara itu, Direktur SMF, Trisnadi Yulrisman, mengatakan bahwa program pembiayaan homestay ini adalah bagian dari komitmen SMF membantu program pemerintah mengembangkan destinasi wisata nasional.

“SMF berharap masyarakat dapat memanfaatkan pembiayaan homestay ini untuk membangun/ memperbaiki kamar rumah yang akan disewakan kepada wisatawan sehingga dapat mendatangkan penghasilan bagi pemilik dan menciptakan lapangan kerja,” ungkap Trisnadi.

Ketua BUMDes Mandalika, Emur, menyebutkan pihaknya menerima baik program kredit kemitraan yang ditawarkan dan akan bersinergi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam rangka penyaluran pembiayaan dari SMF kepada para pengelola homestay di daerahnya.

Dia juga mengharapkan adanya pembinaan dan pengawalan lebih lanjut untuk menggulirkan dana yang diterima secara tepat guna.

“Kami sangat senang. Program ini sangat bermanfaat dan menguntungkan bagi masyarakat. Kami juga mengharapkan adanya pengawasan sehingga pada saat penyaluran dana akan berjalan lancar,” jelas Emur.

Pengembangan homestay di destinasi pariwisata ini selaras dengan amanat Presiden Republik Indonesia yang mengharapkan bahwa pariwisata Indonesia dapat terus diperkuat dan dikembangkan menjadi sektor strategis dan pilar pembangunan perekonomian nasional.

Selain itu, pariwisata Indonesia juga diharapkan dapat mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 20 juta dan pergerakan wisatawan nusantara sebesar 275 juta perjalanan pada tahun 2019 ini.

Pada 11 Februari 2019, sebagai langkah awal Kemenpar dan SMF telah melakukan penyaluran program Kemitraan Homestay bekerja sama dengan BUMDes di dua destinasi wisata lain, yakni Desa Wisata Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah dan Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Pada acara tersebut diberikan arahan mengenai pengembangan Homestay yang berkearifan lokal serta pembagian Buku Panduan Pengembangan Homestay Desa Wisata.

.

Sekilas SMF

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan tahun 2005 di bawah Kementerian Keuangan, yang mengemban tugas sebagai Special Mission Vehicle (SMV) untuk membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan.

SMF memiliki kontribusi penting dalam menyediakan dana menengah panjang bagi pembiayaan perumahan melalui kegiatan sekuritisasi dan pembiayaan.
SMF memiliki peringkat AAA untuk korporasi, yang diperoleh dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan Fitch Rating.

Peringkat tersebut merupakan peringkat tertinggi yang menujukkan kemampuan SMF untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, serta profil permodalan yang sangat kuat, dengan didukung oleh kualitas aset yang sangat baik.

Peringkat tersebut juga mencerminkan tingkat dukungan yang sangat kuat dari Pemerintah Indonesia.

SMF tengah fokus memperkuat perannya sebagai SMV guna menjadi fiscal tools Pemerintah melalui penguatan model bisnis Perseroan. Hal tersebut akan dilakukan melalui peningkatan aliran dana dari pasar modal ke sektor pembiayaan perumahan untuk memperluas akses terhadap sumber dana murah jangka menengah panjang.

Tercatat dari seluruh dana yang dialirkan SMF sampai dengan Desember 2018 telah membiayai kurang lebih 765 ribu debitur KPR dari Aceh sampai Papua. (r)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here