Kemenperin Tumbuhkan IKM Penunjang Pariwisata di NTB

0
221

Lombok Tengah (NTBOne) – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka menangkap peluang terhadap pengembangan sektor pariwisata dengan turut mengembangkan sektor industri di daerah-daerah wisata.

Adapun pembinaan yang dilakukan adalah dalam bentuk pengembangan sentra, pengembangan produk, serta penumbuhan wirausaha baru Industri Kecil Menengah yang kali ini dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat.

“Kami melihat Nusa Tenggara Barat memiliki potensi dalam pengembangan sektor industri khususnya yang menunjang sektor pariwisata,” kata Gati Wibawaningsih di sela pembukaan acara Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah, di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis, (1/8/2019)

Gati menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan di NTB ini berupa bimbingan teknis, pendampingan serta fasilitasi mesin/peralatan pada komoditi rumput laut, anyaman ketak, kerajinan kerang, perbengkelan roda dua, serta reparasi AC.

“Menurut arahan Presiden RI tentang Pariwisata dan arahan Presiden pada Sidang Kabinet Awal Tahun pada 4 Januari 2016 telah menetapkan 10 destinasi wisata prioritas yang dikenal dengan istilah 10 Bali Baru. Dari 10 destinasi prioritas tersebut, terdapat 4 destinasi wisata yang mendapatkan percepatan pembangunan dan menjadi super prioritas yaitu Mandalika, Danau Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo. Di samping itu, Mandalika juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014,” jelasnya.

Berdasarkan hal tersebut Ditjen IKMA melaksanakan program pengembangan IKM yang mendukung kawasan destinasi wisata atau 10 bali baru yaitu pendampingan teknis produksi dan desain kerajinan di kab. lombok tengah yang diikuti oleh 20 orang peserta.

“Lalu ada bimbingan teknis dan fasilitasi mesin/peralatan WUB IKM perbengkelan roda dua di Kabupaten Lombok Tengah,” tambahnya.

Selanjutnya, Gati juga menyampaikan bahwa Lombok juga memiliki beberapa komoditi kerajinan dan sandang unggulan yang bisa dikembangkan menjadi souvenir berupa kerajinan mutiara, gerabah, anyaman ketak, kerajinan kerang, dan tenun.

Menurutnya, sentra anyaman ketak termasuk sentra yang sesuai untuk dikembangkan dengan pendekatan OVOP (One Village One Product) yaitu suatu upaya untuk menghasilkan suatu produk kelas dunia yang bersifat unik khas daerah dengan memanfaatkan sumber daya lokal, yang dipadu dengan seni budaya, sebagai kreasi dan inovasi bernilai tambah tinggi dan bereputasi internasional.

“Pengembangan Sentra IKM melalui pendekatan OVOP adalah melalui pendampingan teknis dan manajemen di sentra OVOP anyaman ketak di Kabupaten Lombok Barat dan dilaksanakan dalam 2 tahap pendampingan pada bulan agustus dan september 2019,” jelasnya.

Lebih lanjut Gati juga menjelaskan, NTB juga memiliki potensi rumput laut yang cukup besar dan termasuk dalam 10 besar sentra budidaya rumput laut Indonesia, dimana potensi areal budidaya rumput laut di NTB berkisar 22.270 Ha dengan produksi 972.148 ton.

“Indonesia juga merupakan penghasil rumput laut kering terbesar di dunia dengan produksi 328.000 ton atau 61,18% total produksi dunia di tahun 2017,” tambah Gati.

Rumput Laut merupakan salah satu komoditas strategis karena potensi domestik yang cukup besar dan menggerakkan sektor ekonomi di wilayah pesisir, di samping itu juga merupakan industri prioritas yang mempunyai daya saing yang kuat dan masih terbuka peluang yang besar untuk peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi rumput laut

“Dengan adanya potensi tersebut, hari ini juga kita selenggarakan bimbingan teknis produksi ikm rumput laut yang diikuti oleh  20 orang peserta dan dilaksanakan selama 4 hari,” ungkap Gati

Gati menjelaskan, Peraturan Presiden Nomor 33 tahun 2019 tentang Peta Panduan Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional 2018-2021 dijadikan dasar dalam pelaksanaan kebijakan dan penganggaran serta usulan dalam RPJMN 2020-2024 sebagai program prioritas.

Terakhir adalah fasilitasi mesin/peralatan ikm reparasi AC yang bersinergi dengan kegiatan Dekon adapun fasilitasi mesin/peralatan untuk IKM reparasi AC di antaranya adalah Vacuum pump, Manipold tester, Tangga besi dan Flaring tool set.

Gati menyampaikan, pengembangan sektor industry ini perlu dilakukan dengan sinergi bersama antara pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah baik itu tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Saya berharap dengan sinergi yang dibangun antara Kementerian Perindustrian dengan segenap Dinas yang membawahi sektor Industri di Provinsi Nusa Tenggara Barat dapat meningkatkan jumlah wirausaha industri baru, meningkatkan potensi sentra-sentra IKM dan berkontribusi mengembangkan pemberdayaan ekonomi yang pada akhirnya berdampak positif terhadap ekonomi nasional,” tutup Gati. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here