Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Pupuk Kaltim Gagas Program Agro Solution di NTB

0
61
Direktur Komersil Pupuk Kaltim, Gatoet Gembiro Noegroho, dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi, dan mitra multi pihak aliansi, menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama program Agro Solution, di Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (23/8/2020).
Direktur Komersil Pupuk Kaltim, Gatoet Gembiro Noegroho, dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi, dan mitra multi pihak aliansi, menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama program Agro Solution, di Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (23/8/2020).

Lombok Tengah (NTBOne) – PT Pupuk Kaltim menggagas program Agro Solution berupa pemanfaatan kawasan pertanian dengan konsep kemitraan berkelanjutan, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat serta multi pihak untuk mendukung ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas hasil pertanian.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Komersil Pupuk Kaltim, Gatoet Gembiro Noegroho, dengan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi, dan mitra multi pihak aliansi.

Penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan pada saat panen raya padi di Kabupaten Lombok Tengah, Minggu 23/8) tersebut, disaksikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah.

Gatoet menjelaskan, agro solution digagas sebagai strategi meningkatkan loyalitas petani terhadap produk Pupuk Kaltim melalui pendampingan, sekaligus memfasilitasi akses manfaat selain pupuk, sehingga dapat meningkatkan hasil panen dan mendorong kesejahteraan petani.

Melalui aplikasi agro solution, tantangan utama ketahanan pangan seperti konversi lahan yang tidak terkendali, penurunan kualitas tanah, hingga infrastruktur pertanian yang terbatas, dapat teratasi dengan baik.

Kerja sama tersebut, kata dia, turut melibatkan sejumlah pihak, seperti perbankan, asuransi pertanian hingga offtaker, guna mendukung produktivitas pertanian dengan peningkatan hasil yang lebih siginifikan.

“Adanya sinergisitas multi pihak, akses petani dalam memenuhi kebutuhan pertanian juga dipermudah dan lebih luas, sebagai manfaat layanan untuk petani secara holistik,” katanya.

Pada program tersebut, lanjut Gatoet, Pupuk Kaltim mengalokasikan anggaran senilai Rp261,45 Juta untuk pelaksanaan demplot agro solution di 63 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah NTB.

Pengembangan dilakukan setelah pilot project dan uji coba penerapan agro solution berhasil meningkatkan produktivitas padi petani NTB di tiga kabupaten, di antaranya Kabupaten Bima di atas lahan 400 hektare (ha), dengan keuntungan hasil kemitraan mencapai Rp22,5 juta per ha dari sebelumnya Rp9,2 juta/ha atau meningkat 144 persen.

Selanjutnya, di kabupaten Dompu, dengan produktivitas keuntungan kemitraan Rp39,9 juta/ha dari Rp24,4 juta/ha, dengan luasan lahan 5,5 ha atau naik sekitar 63 persen dari biasanya.

Kemudian di Kabupaten Lombok Timur, dengan luas lahan 20 ha berhasil meningkatkan keuntungan 98 perse, dari sebelumnya Rp11,8 juta/ha menjadi Rp23,5 juta/ha.

Menurut Gatoet, petani tak hanya mendapat modal untuk mendapatkan bibit, pupuk dan pestisida, tapi juga asuransi sebagai antisipasi kerugian saat gagal panen. Begitu pula penjualan hasil produksi, juga difasilitasi kepada offtaker dengan harga lebih tinggi dari skema harga pasar.

“Termasuk pendampingan lapangan secara intensif oleh tim penyuluh kemitraan dari Pemerintah Daerah dan Perusahaan, khususnya untuk pola pemupukan berimbang, pengelolaan lahan serta penerapan teknologi pertanian,” ujarnya.

Manager Partnership Pupuk Kaltim Muhammad Burmansyah, optimis program Agro Solution mampu meningkatkan keunggulan hasil pertanian secara kompetitif, sekaligus menciptakan komunitas masyarakat yang produktif di sepanjang rantai pasok pertanian, untuk meningkatkan ketersediaan pangan sesuai kebutuhan pasar.

“Dari sisi petani, mampu meningkatkan nilai tambah hasil panen dengan ketersediaan infrastruktur, jaringan distribusi hingga offtaker,” ucap Burman.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, juga menyambut positif aliansi kemitraan pertanian berkelanjutan melalui agro solution.

Ia optimis program tersebut dapat memperkuat produktivitas pertanian di NTB, guna meningkatkan kontribusi pada ketahanan pangan nasional. Hal ini tentunya juga bisa diaplikasikan ke provinsi lain, sehingga turut mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Apalagi di masa pandemi COVID-19, pertanian merupakan salah satu sektor yang tetap tumbuh positif, sehingga Pemerintah terus berupaya mendongkrak kinerja sektor pertanian untuk menyelamatkan perekonomian nasional, di mana sektor pertanian mampu menyumbang 2,54 persen secara nasional senilai 0,35 miliar dolar AS, berdasarkan nilai tukar petani (NTP) pada Juli 2020.

Bahkan saat sektor lain mengalami penurunan, ekspor pertanian justru meningkat 24,1 persen dibanding Juni 2020 dan 11,17 persen dibanding Juli 2019.

“Pertanian harus kita kembangkan dengan kuat dan saya ingin sinergi ini terus berjalan. Apalagi NTB memiliki berbagai komoditas strategis yang menopang ketahanan pangan nasional, sehingga perlu dilakukan upaya penguatan pertanian,” kata Syahrul. (r)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here