Mataram, ntbone – Keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh keterampilan pengendara, tetapi juga oleh kondisi kendaraan yang digunakan. Salah satu komponen paling vital namun sering diabaikan adalah tekanan ban.
Tekanan ban yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko ban cepat rusak, kebocoran, hingga kecelakaan akibat berkurangnya daya cengkeram di jalan.
Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, menyampaikan bahwa banyak pengendara masih menganggap sepele kondisi tekanan ban. Padahal menurutnya, ban merupakan satu-satunya bagian kendaraan yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan sehingga kondisinya harus benar-benar terjaga.
“Tekanan ban sangat berpengaruh pada kestabilan motor. Ban yang kempes membuat kendaraan sulit dikendalikan dan lebih cepat panas, sehingga rawan pecah. Sementara ban yang terlalu keras mengurangi traksi dan membuat motor mudah tergelincir. Karena itu, pengecekan tekanan ban wajib dilakukan secara rutin,” ujar Satria Wiman Jaya.
Ia juga menambahkan bahwa standar tekanan udara yang direkomendasikan untuk motor harian, khususnya jenis skutik, adalah: Ban depan: 29 – 30 PSI dan Ban belakang: 30 – 33 PSI
Satria menegaskan pentingnya membangun kebiasaan pengecekan tekanan ban, baik sebelum berkendara maupun setelah menempuh perjalanan jauh.
“Cukup meluangkan satu menit untuk mengecek tekanan ban bisa menyelamatkan kita dari risiko kecelakaan. Jangan menunggu ban terasa goyang atau berat baru dicek. Lakukan secara berkala, bisa di bengkel, SPBU, atau menggunakan alat ukur sendiri di rumah,” tambahnya.
Mekanik bengkel resmi AHASS, Rico Hermawan juga mengingatkan bahwa tekanan ban yang tepat tidak hanya menjaga keselamatan, tetapi juga meningkatkan efisiensi bahan bakar serta memperpanjang usia ban.
Melalui edukasi ini, Astra Motor NTB bersama jaringan AHASS mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kendaraannya agar aktivitas berkendara setiap hari menjadi lebih aman, nyaman, dan bebas risiko kecelakaan.











