Beranda Ekbis Co Firing di NTB, Gerakkan Roda Ekonomi Masyarakat

Co Firing di NTB, Gerakkan Roda Ekonomi Masyarakat

91
0

Mataram, ntbone – PLN NTB menggencarkan penggunaan biomassa sebagai bahan bakar substitusi, baik sebagian ataupun seluruhnya, dari batubara yang digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Teknologi yang disebut co firing tersebut dilakukan PLN tidak hanya menekan emisi karbon dan turut menyukseskan pencanangan Net Zero Emission tahun 2050 di NTB, namun juga menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya di NTB.

Salah satu distributor biomassa serbuk kayu yang digunakan untuk co firing PLTU Jeranjang, Barwan menjelaskan bahwa dalam satu bulan, Barwan dapat menyediakan hingga 300 ton serbuk kayu di PLTU Jeranjang.

Barwan juga menjelaskan proses penyediaan serbuk kayu atau woodchip yang harus melewati beberapa tahapan agar serbuk kayu siap digunakan untuk co firing. Dimulai dari mencari serbuk di tempat penimbunan atau pemotongan kayu, kemudian dikarungi dan dibawa ke shelter untuk pengeringan terlebih dahulu hingga pengiriman ke PLTU Jeranjang.

Barwan juga menyampaikan terima kasih kepada PLN sehingga pihaknya dapat berkontribusi yang tentunya membawa dampak positif bagi dirinya dan juga masyarakat sekitar.

“Kami ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sehingga kami dapat berpartisipasi dalam program transisi energi”, ucap Barwan.

Hal senada disampaikan oleh Lalu Sultansyah, distributor sekam padi untuk co firing PLTU Jeranjang. Pihaknya menyebut sekam padi yang dihasilkannya kini bernilai ekonomi yang mendatangkan manfaat.

“Sekam padi ini kami sudah menganggapnya sebagai limbah. Namun setelah kami diberikan pemahaman bahwa ternyata limbah sekam padi ini masih bisa digunakan untuk co firing di PLTU Jeranjang. Terima kasih PLN, kami merasa sangat terbantu, yang bisa memutar perekonomian kami terutama masyarakat sekitar dan pengelola sekam padi ini,” kata Sultansyah.

Produksi sekam padi yang disuplai oleh Sultansyah sendiri ke PLTU Jeranjang per bulan mencapai 400 sampai 600 ton yang diperolehnya dari beberapa produsen sekam padi di Lombok Tengah.

Dalam menuju transisi energi bersih, PLN tidak berjalan sendiri. PLN berkolaborasi dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Program ini memberikan dampak yang luar bisa bagi PLN, lingkungan dan masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Sudjarwo, General Manager PLN NTB.

“Melalui program ini, kami tidak hanya bermaksud mengganti batu bara dengan biomassa, tetapi juga membangun rantai pasok biomassa yang andal dengan melibatkan masyarakat yang dalam penyediaannya memiliki dampak ekonomi untuk masyarakat secara langsung,” ucap Djarwo.

Kehadiran program ekonomi kerakyatan co firing ini juga merupakan langkah nyata PLN menjawab persoalan global. Untuk terus menjaga keberlangsungan pasokan biomassa, PLN juga telah merintis pembangunan rantai pasok melalui program pendampingan, pilot project pengembangan skala kecil sampai dengan komersialisasi biomassa yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

“Co firing bukanlah upaya untuk mengurangi emisi saja, namun kami sadar ada unsur ekonomi sirkular yang bisa membentuk ekosistem energi kerakyatan melalui pemberdayaan masyarakat”, jelas Djarwo.

Sepanjang tahun 2022 ini, PLN telah mengimplementasikan teknologi co firing ini di dua lokasi PLTU, yaitu PLTU Jeranjang yang berlokasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat dan PLTU Sumbawa Barat di Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Adapun jenis co firing yang digunakan adalah sampah yang telah diolah menjadi Solid Recovered Fuel, sekam padi, serbuk kayu dan juga serpihan atau potongan kayu atau woodchip. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here