Beranda Headline Implementasi Co-Firing di NTB tahun 2022 Hasilkan 4,2 GWh Listrik Bersih

Implementasi Co-Firing di NTB tahun 2022 Hasilkan 4,2 GWh Listrik Bersih

103
0

Mataram, ntbone – PT PLN (Persero) NTB terus menggencarkan penggunaan biomassa sebagai bahan bakar subtitusi, baik sebagian ataupun seluruhnya, dari batubara yang digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Teknologi yang disebut co-firing tersebut dilakukan PLN untuk bisa menekan emisi karbon sekaligus turut menyukseskan pencanangan Net Zero Emission tahun 2050 di NTB.

General Manager PLN NTB, Sudjarwo mengatakan sepanjang tahun 2022 ini, PLN mengimplementasikan teknologi co-firing ini di dua lokasi PLTU, yaitu PLTU Jeranjang yang berlokasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat dan PLTU Sumbawa Barat di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Program co-firing PLN di tahun 2022 mampu memproduksi energi bersih sebesar 4.205 MWh dengan memanfaatkan biomassa sebanyak 5.923 ton. Angka ini mengalami kenaikan yang signifikan bila dibandingkan dengan penggunaan Co Firing di tahun 2021 sebesar 2.139 ton yang menghasilkan 1.596 MWh.

Adapun jenis co firing yang digunakan adalah sampah yang telah diolah menjadi Solid Recovered Fuel, sekam padi, serbuk kayu, bonggol jagung dan juga serpihan atau potongan kayu (woodchip).

“Implementasi co-firing akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi karbon. Ini merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan yang melibatkan masyarakat dalam penyediaan biomassa sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” kata Djarwo.

Tak hanya sekedar memanfaatkan biomassa saja, untuk menjamin keberlangsungan pasokan, PLN telah membangun rantai pasok biomassa. Mulai tahap perencanaan, pembangunan, pengelolaan biomassa plant sampai dengan komersialisasi di PLTU PLN. Biomassa yang saat ini dipergunakan ada lima jenis yaitu serbuk gergaji, serpihan kayu, limbah pertanian, bonggol jagung, dan sekam padi.

“Kami menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk pemerintah daerah untuk pemanfaatan sampah untuk pemanfaatan tanaman energi atau serbuk kayu. Kerja sama dengan masyarakat dan berbagai pihak lainnya lakukan untuk pemanfaatan jenis biomasa seperti serbuk gergaji, sekam padi, bonggol jagung dan cangkang sawit,” jelas Djarwo.

Dalam menuju transisi energi bersih, PLN tidak berjalan sendiri. PLN berkolaborasi dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Program ini memberikan dampak yang luar bisa bagi PLN, lingkungan dan masyarakat.

“Melalui program ini, kami tidak hanya bermaksud mengganti batu bara dengan biomassa, tetapi juga membangun rantai pasok biomassa yang andal dengan melibatkan masyarakat. Sehingga dalam penyediaannya memiliki dampak ekonomi untuk masyarakat secara langsung,” ucap Djarwo.

Kehadiran program ekonomi kerakyatan co-firing ini juga merupakan langkah nyata PLN menjawab persoalan global. Mewujudkan Indonesia yang bersih dan mandiri energi. Meningkatkan kapasitas nasional dengan prinsip Environmental, Social and Governance. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here