Perempuan Perindo Peduli Rakyat, Tinjau Kondisi Harga dan Ketersediaan Kebutuhan Pokok di Pasar Tradisional Mataram

0
63
Perempuan Perindo berdialog dengan para pedagang di Pasar Tradisional Mandalika, Kota Mataram, NTB, terkait kondisi harga kebutuhan pokok. (Dok BDRG)
Perempuan Perindo berdialog dengan para pedagang di Pasar Tradisional Mandalika, Kota Mataram, NTB, terkait kondisi harga kebutuhan pokok. (Dok BDRG)

Mataram, ntbone – Perempuan Perindo, sayap Partai Perindo yang beranggotakan para perempuan, turun langsung ke pasar tradisional di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk meninjau kondisi harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di awal tahun 2024.

Salah satu anggota Perempuan Perindo NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, mengatakan bahwa blusukan ke pasar tradisional ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga dari kalangan menengah ke bawah.

“Kami ingin melihat langsung bagaimana kondisi harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di pasar tradisional, yang merupakan tempat belanja utama bagi masyarakat kita. Kami juga ingin berdialog dengan para pedagang dan pembeli, untuk mendengar keluhan dan aspirasi mereka,” kata Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi.

Perempuan yang akrab disapa BDRG itu bersama para srikandi Perindo di Pulau Lombok mengunjungi dua pasar tradisional di Kota Mataram, yaitu Pasar Tradisional Mandalika dan Pasar Tradisional Kebon Roek Ampenan.

Di sana, mereka mengecek harga dan ketersediaan beberapa kebutuhan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, telur, daging, ikan, bawang merah, bawang putih, cabai, dan sayur-sayuran.

BDRG mengungkapkan, bahwa harga kebutuhan pokok di pasar tradisional masih relatif mahal, meskipun tidak terlalu signifikan.

Ia mencontohkan, harga bawang merah mencapai Rp40.000 per kilogram, bawang putih Rp35.000 per kilogram, dan cabai merah Rp60.000 per kilogram.

“Kenaikan harga ini tentu membebani para ibu rumah tangga, yang harus mengatur anggaran belanja dengan cermat. Apalagi di awal tahun ini, biasanya ada kenaikan harga karena faktor cuaca dan permintaan yang tinggi,” ujarnya.

BDRG menambahkan, bahwa sebagian besar sayur-sayuran yang dijual di pasar tradisional berasal dari luar daerah, seperti dari Bali dan Jawa. Hal ini menyebabkan harga menjadi lebih mahal, karena ada biaya transportasi dan distribusi.

“Kami berharap, di tahun 2024 ini, pemerintah bisa memberikan dukungan kepada para petani lokal, agar bisa meningkatkan produksi dan kualitas sayur-sayuran. Dengan begitu, ketersediaan dan harga sayur-sayuran di pasar tradisional bisa lebih terjamin,” tuturnya.

BDRG juga mengusulkan, agar pemerintah memberikan bantuan berupa pupuk, bibit, alat, dan pelatihan kepada para petani, agar bisa merawat tanaman dengan baik.

Ia mengatakan, dengan kondisi iklim yang tidak menentu saat ini, para petani harus bisa beradaptasi dan mengantisipasi hama dan penyakit tanaman.

“Kami juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, agar bisa memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam tanaman holtikultura, seperti terong, kemangi, dan cabai. Hal ini bisa membantu menghemat pengeluaran dan menstabilkan harga di pasar,” ucapnya.

BDRG, yang juga merupakan calon anggota DPR RI dari Partai Perindo nomor urut 2 untuk daerah pemilihan NTB 2 atau Pulau Lombok, mengatakan bahwa blusukan ke pasar tradisional ini merupakan salah satu program kerja Perempuan Perindo.

Ia mengatakan, Perempuan Perindo akan terus bergerak dan berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat.

“Perempuan Perindo adalah sayap Partai Perindo yang berisi para perempuan yang peduli dan berani. Kami akan terus berjuang untuk mewujudkan visi dan misi Partai Perindo, yaitu Indonesia Sejahtera, Indonesia Hebat. Kami juga akan mendukung dan mengawal program-program pemerintah yang pro-rakyat,” pungkasnya. (Din)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini