Mataram, ntbone – Pada suatu pagi yang hangat di Posyandu Cakra Selatan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, puluhan ibu muda berdatangan sambil menggendong anak-anak mereka. Di meja pelayanan, petugas puskesmas menata timbangan bayi dan lembar pemantauan tumbuh kembang.
Kader posyandu tampak sibuk menyiapkan paket makanan tambahan. Sementara itu, di sudut ruangan, beberapa relawan Astra Motor NTB datang membawa keranjang besar berisi bahan pangan bergizi, seperti telur, susu, sayuran, tempe, serta makanan siap olah.
“Terima kasih, ini sangat membantu,” ujar Hernawati (42), ibu dari balita usia 13 bulan, sembari tersenyum setelah menerima paket tersebut.
Ia mengaku bantuan itu bukan hanya tentang tambahan gizi, tetapi juga tentang dorongan moral yang membuatnya merasa tidak sendirian dalam menjaga tumbuh kembang putrinya.
Pemandangan sederhana ini menggambarkan cerita yang lebih besar: angka stunting di Kota Mataram terus mengalami penurunan. Dari 7,6 persen atau sekitar 1.900 kasus, kini menurun menjadi 6,7 persen atau sekitar 1.600 kasus per Mei 2025.
Pemerintah setempat menargetkan menurunkannya lagi menjadi 5 persen di akhir 2025, sebuah target yang oleh Dinas Kesehatan Kota Mataram dianggap realistis.
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Itu merupakan hasil dari koordinasi lintas sektor, perubahan perilaku keluarga, peningkatan layanan posyandu, serta dukungan sektor swasta yang ikut mengambil bagian dalam mengatasi masalah stunting.
Upaya Mataram Menurunkan Stunting
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H Emirald Isfihan, menyebut penurunan angka stunting menjadi 6,7 persen sebagai perkembangan yang menggembirakan.
“Ini kabar baik bagi kita semua. Angka ini menunjukkan progres yang konsisten. Kami optimistis target nasional lima persen dapat dicapai,” katanya.
Menurut Emirald, upaya percepatan dilakukan melalui beberapa strategi. Salah satunya adalah penggunaan suplemen dengan varian rasa untuk anak-anak yang susah makan. Banyak balita berisiko stunting memiliki kebiasaan makan yang sulit diatur. Orang tua pun tidak jarang kewalahan.
“Biasanya intervensi baru terlihat dalam tiga bulan, tetapi dengan pendekatan suplemen yang lebih disukai anak, hasilnya mulai tampak dalam dua bulan,” ujarnya.
Program orang tua asuh balita stunting juga terus berjalan. Program ini menjadi jaring pengaman bagi anak-anak berisiko gizi buruk. Pendekatan dari hulu pun diperkuat melalui kolaborasi dengan DP2KB, PKK, Dharma Wanita, dan organisasi perempuan lain.
Edukasi gizi untuk remaja, pemantauan ibu hamil, hingga evaluasi tumbuh kembang anak menjadi fokus yang diperluas.
Namun Emirald mengingatkan bahwa stunting bukan semata persoalan kurang makan.
“Masalahnya sering terkait pengetahuan gizi keluarga, pola makan balita yang tidak teratur, dan anggapan bahwa posyandu hanya tempat imunisasi. Pemahaman seperti ini perlu kita luruskan,” katanya.
Peran Astra Motor NTB
Salah satu pihak yang belakangan aktif terlibat adalah Astra Motor NTB. Perusahaan otomotif ini memasukkan isu stunting ke dalam pilar AM Health—salah satu pilar tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibilty (CSR) mereka.
Koordinator Wilayah AFFCO Astra Group, Ivan Pratama, menjelaskan alasan keterlibatan ini. “Stunting bukan hanya isu kesehatan, tapi isu masa depan. Ia berpengaruh pada kualitas generasi berikutnya. Karena itu, kami ingin berperan aktif menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif,” ujarnya.
Astra Motor NTB mulai bergerak sejak isu stunting muncul di wilayah Mataram. Pada Agustus 2024, mereka menyalurkan 55 paket makanan bergizi di Posyandu Cempaka Merah sebagai intervensi gizi untuk anak berisiko stunting.
Pada Juli 2025, jumlah yang sama kembali didistribusikan di Posyandu Cakra Selatan. Di sejumlah titik, seperti Posyandu Amal Sejati di Getap Timur dan Posyandu Dasan Cermen, Astra juga memberikan makanan tambahan siap olah untuk ibu hamil dan balita.
Selain paket gizi, relawan Astra ikut mendampingi kegiatan posyandu seperti penimbangan balita, pemeriksaan ibu hamil, hingga edukasi gizi singkat.
Ivan mengatakan bahwa seluruh kegiatan CSR diselaraskan dengan kebutuhan wilayah berdasarkan peta stunting dari Dinas Kesehatan dan DP2KB.
“Kami selalu menyesuaikan jenis bantuan dengan rekomendasi puskesmas agar tepat sasaran,” ujarnya.
Dari data lapangan, dampak intervensi mulai terlihat. Di Posyandu Cempaka Merah, misalnya, jumlah anak stunting yang sebelumnya mencapai 49 orang turun menjadi 23 setelah berbagai intervensi gabungan. “Ini menunjukkan bahwa kolaborasi itu nyata hasilnya,” kata Ivan.
Ia menjelaskan bahwa relawan yang terlibat adalah PIC CSR internal Astra Motor NTB yang turun langsung menemui warga, puskesmas, dan kader posyandu.
“Tidak ada pelatihan khusus. Kami bergerak karena ada tanggung jawab moral dan komitmen perusahaan,” katanya.
Astra Motor NTB juga memastikan bahwa program bantuan untuk posyandu akan terus berkelanjutan.
“Kami akan mendampingi posyandu di wilayah ring satu hingga angka stunting benar-benar nol. Itu target yang ingin kami capai,” tegas Ivan.
Ia berharap semakin banyak perusahaan meniru langkah tersebut agar penanggulangan stunting tidak hanya bertumpu pada pemerintah.
Ketika Bantuan Tepat Sasaran
Kepala Seksi Sosial Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Cakra Selatan Baru, Nurhidayah, mengatakan bahwa wilayahnya menaungi delapan posyandu, mulai dari Tri Sejahtera, Amal Sejati, hingga Gumitir dan Kamboja.
“Dari delapan posyandu, ada sekitar 67 anak balita yang berisiko stunting. Semua sudah kami informasikan agar hadir hari ini menerima paket makanan bergizi dari Astra,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi anak berisiko stunting dapat terlihat dari tinggi badan yang tidak sesuai usia, berat badan yang tidak naik normal, tumbuh gigi terlambat, hingga perut buncit namun tubuh kurus.
Menurutnya, berbagai intervensi yang berjalan beberapa bulan terakhir membantu memperbaiki data di wilayahnya.
“Insyaallah bantuannya tepat sasaran. Kami berharap tren penurunan ini terus berlanjut,” ujarnya.
Hernawati yang menggendong balitanya menjadi salah satu bukti penerima manfaat. “Bantuan ini sangat membantu kami di rumah. Semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti,” tuturnya.
Mengapa Kolaborasi Penting?
Masalah stunting berakar pada banyak faktor, mulai dari kesehatan ibu hamil, akses pangan bergizi, perilaku makan keluarga, hingga kapasitas kader posyandu.
Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Perusahaan dapat menjadi jembatan antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Dukungan organisasi yang terstruktur mempercepat pelaksanaan program, memperkuat kapasitas kader, dan memperluas jangkauan edukasi.
Dalam kerangka pembangunan SDM, mencegah stunting berarti menyiapkan kualitas generasi masa depan. Anak yang tumbuh sehat memiliki peluang belajar lebih baik, produktivitas tinggi, dan daya saing yang lebih kuat saat memasuki dunia kerja.
“Kesehatan anak pada seribu hari pertama kehidupan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan,” ujar Ivan.
Astra Motor NTB, lanjutnya, akan terus memperkuat edukasi gizi, pendampingan posyandu, serta berbagai kegiatan yang membantu keluarga membuat keputusan terbaik bagi tumbuh kembang anak.
“Kami percaya setiap anak berhak tumbuh optimal dan setiap orang tua berhak mendapatkan informasi yang benar,” katanya.
Menuju Mataram Tanpa Stunting
Di tengah tantangan kesehatan masyarakat, Kota Mataram menunjukkan bahwa perubahan besar bisa bermula dari ruang kecil bernama posyandu. Ketika pemerintah, sektor swasta, kader posyandu, dan masyarakat berjalan bersama, hasilnya nyata terlihat.
Dari penurunan kasus 49 menjadi 23 di satu wilayah, hingga capaian kota yang kini turun menjadi 6,7 persen, semua itu menceritakan tentang kemajuan yang dicapai secara perlahan tetapi pasti.
Kisah ini bukan semata tentang statistik, melainkan tentang harapan yang tumbuh di tangan para ibu, kader posyandu, dan relawan yang bekerja tanpa henti. Ketika sinergi ini terus dijaga, Mataram berpotensi menjadi contoh nasional tentang penurunan stunting berbasis kolaborasi.
Pada akhirnya, stunting bukan hanya masalah kesehatan. Ia adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan setiap anak Mataram tumbuh lebih sehat, cerdas, dan kuat.











