Mataram, ntbone.com – Motor yang tiba-tiba mogok di tengah perjalanan sering kali dianggap sebagai nasib buruk atau faktor usia kendaraan. Padahal, di balik banyak kasus mogok mendadak, ada kebiasaan pemilik motor yang kerap mengabaikan servis rutin. Kondisi ini masih sering ditemui, terutama pada motor yang digunakan untuk aktivitas harian dengan intensitas tinggi.
Instruktur Technical Service Astra Motor NTB, Sultan Hartawan, menegaskan bahwa perawatan berkala adalah kunci utama agar sepeda motor tetap kuat, irit, dan memiliki performa maksimal. Menurutnya, servis rutin bukan sekadar formalitas, tetapi kebutuhan dasar kendaraan bermotor.
“Motor itu seperti tubuh manusia. Kalau tidak pernah dicek dan dirawat secara berkala, kerusakan kecil bisa berkembang jadi masalah besar. Servis rutin adalah kunci supaya motor tidak mogok di jalan,” jelas Sultan Hartawan.
Sepeda motor menjadi moda transportasi utama masyarakat. Banyak motor digunakan setiap hari untuk bekerja, mengantar anak sekolah, hingga menunjang aktivitas usaha. Namun, tingginya intensitas pemakaian sering kali tidak diimbangi dengan perawatan yang sesuai standar.
Sultan menjelaskan, salah satu kesalahan umum pemilik motor adalah menunggu hingga motor terasa tidak nyaman baru dibawa ke bengkel. Padahal, beberapa komponen penting bisa mengalami penurunan fungsi tanpa gejala awal yang jelas.
“Kadang motor masih bisa jalan, tapi performanya sudah turun. Kalau dibiarkan, efeknya bisa ke mesin, konsumsi bahan bakar boros, bahkan mogok mendadak,” katanya.
Salah satu perawatan paling mendasar namun sering disepelekan adalah penggantian oli. Menurut Sultan, oli berfungsi sebagai pelumas sekaligus pelindung komponen mesin dari gesekan berlebih.
Ia menyarankan penggantian oli mesin setiap 4.000 kilometer atau maksimal empat bulan. Namun, untuk motor yang digunakan setiap hari atau memiliki jam kerja tinggi, penggantian ideal dilakukan setiap dua hingga tiga bulan.
“Kalau motor dipakai harian, jangan tunggu empat bulan. Dua sampai tiga bulan sebaiknya sudah ganti oli agar mesin tetap sehat,” terang Sultan.
Khusus untuk motor matik, penggantian oli gear atau oli transmisi juga tidak boleh dilupakan. Oli gear disarankan diganti setiap 8.000 kilometer atau setara dengan empat kali penggantian oli mesin.
Selain ganti oli, servis rutin yang mencakup pengecekan mesin, sistem pengereman, dan kelistrikan wajib dilakukan secara berkala. Astra Motor merekomendasikan servis rutin di setiap kelipatan 4.000 kilometer, seperti 16.000 km, 20.000 km, 24.000 km, dan seterusnya.
Pengecekan ini penting untuk memastikan seluruh komponen bekerja sesuai standar pabrikan. Rem yang aus, kelistrikan bermasalah, atau setelan mesin yang berubah bisa berdampak pada keselamatan pengendara.
“Servis rutin itu bukan hanya soal mesin, tapi juga soal keamanan. Rem dan kelistrikan sangat krusial, apalagi untuk perjalanan jauh,” ujar Sultan.
Untuk memudahkan konsumen, Astra Motor menyediakan program Kartu Perawatan Berkala (KPB). Program ini dirancang agar pemilik motor baru mendapatkan servis sesuai jadwal tanpa khawatir biaya jasa servis di awal masa pemakaian.
Sultan merinci, KPB terdiri dari empat tahap. KPB 1 mencakup jasa servis dan penggantian oli mesin pada jarak 1.000 kilometer atau usia dua bulan. KPB 2 berlaku pada 4.000 kilometer atau empat bulan dengan layanan jasa servis. KPB 3 dilakukan pada 8.000 kilometer atau delapan bulan, dan KPB 4 pada 12.000 kilometer atau 12 bulan, masing-masing mencakup jasa servis sesuai ketentuan.
“Program KPB ini sebenarnya sangat membantu. Tinggal datang sesuai jadwal, motor dicek oleh mekanik terlatih,” katanya.
Sultan mengingatkan, merawat motor bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga investasi jangka panjang. Motor yang dirawat sesuai jadwal cenderung lebih awet, jarang mengalami kerusakan berat, dan memiliki nilai jual kembali yang lebih baik.
Ia pun mengajak masyarakat NTB untuk tidak menunda servis motor dan memanfaatkan jaringan bengkel resmi Astra Motor. “Motor sehat itu bikin perjalanan lebih tenang. Jangan tunggu rusak dulu baru ke bengkel,” tutup Sultan Hartawan.
Dengan perawatan rutin dan disiplin mengikuti jadwal servis, risiko mogok di jalan bisa ditekan. Di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, motor yang prima bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.











